AKTUALISASI SIKAP INTELEKTUAL

Secara konteksual, intelektual dapat dikatakan sebagai individu atau kelompok yang memikirkan secara rasional, objektif dan idealis terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan acuan yang dipakai dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Pengejawatahan dari acuan tersebut telah  menjadikan  intelektual muda sebagai komunitas penting dalam menggerakkan dan menjalankan segala kebijakan yang berhubungan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kisah super hero intelektual diawali saat merebut kemerdekaan. Kaum muda yang berasal dari dunia akademik ini banyak memberikan kontribusi pemikiran terhadap format bangsa ke depan. Kelompok ini mempunyai ciri antara lain. Pertama, umumnya mereka adalah kelompok yang senantiasa tidak puas terhadap lingkungannya, menginginkan adanya perubahan yang dinamis dan menentang keras status quo. Fenomena ini membuat mereka memberontak terhadap kemapanan kaum penjajah. Kedua, mengingat dunia akademis yang mereka geluti, maka sedikit banyak pikirannya dibasuh oleh sistematika dan metodologi. Sehingga sikap objektif-rasional dan kritis yang menjadi ciri keilmuan sangat mempengaruhi pandangannya dalam menyelesaikan masalah. Ketiga, umumnya mereka adalah kelompok yang masih bebas, belum mempunyai ikatan tetap sebagai kader, aktivis ataupun anggota partai politik. Karenanya, ciri-ciri spontan yang lugas dalam bersikap dan memberi pandangan amat kuat, sebab mereka hanya berkepentingan terhadap format masa depan. Keempat, mengingat mereka adalah sub system yang paling strategis dalam setting masyarakat kita, maka ketika mereka menatap konstelasi dengan latar belakang idealisme, keilmuan dan keindependenannya, mereka senantiasa tidak ingin mengulang opini kelompok lain, melainkan berusaha mencari hal baru yang belum tersentuh kelompok lain.

Pada saaat kemerdekaan diproklamirkan, maka kekuatan intelektual/pemuda lah yang mendapat ’piala’, karena dengan kecerdasan dan kekuatannya telah berhasil merekatkan hampir seluruh komponen bangsa. Adanya kelompok-kelompok pemuda yang lahir sebelum dan sesudah itu, seperti Perhimpunan Indonesia,HMI, PMII, GMNI, PII, PMKRI dan sebagainya, merupakan cerminan dari maraknya ide kaum muda yang diformulasi ke dalam bentuk perkumpulan. Fenomena ini mengakibatkan tumbuhnya beragam pemikiran seputar kehidupan berbangsa dan bertanah air. Kontribusi mereka tidak saja sebatas tekstual, tetapi juga aplikasi dari ide yang mereka telurkan. Ini menunjukkan betapa dalam masa sulit sekalipun, komitmen mereka terhadap tanah air, tidak perlu diragukan lagi. Semangat kebangsaan yang mereka punya dijadikan komoditas umum, modal perlawanan terhadap penjajah.
Peran intelektual semakin mengalami perluasan pada masa Orde Lama. Periode ini menuntut intelektual untuk terjun langsung ke arena politik dan menjadi sumber inspirasi dalam proses pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan yang harus dilakukan secara instan, kompehensif dan sistematis. Ini tidak bisa dilakukan oleh pihak lain selain intelektual, sehingga peran mereka tidak hanya terjun ke dalam dunia akademis semata yang berkontemplasi dengan teori, tapi juga dituntut untuk memberikan kontribusi yang lebih konkret.
Namun seiring perkembangannya, eksistensi intelektual mulai terkikis dan berganti dengan perilaku politik yang merupakan dampak dari terjunnya mereka ke dalam lingkaran politik. Pada dasarnya tidak ada yang salah apabila aktivitas yang dilakukan adalah murni untuk kepentingan rakyat. Namun rakyat tidak percaya manakala kepentingan akademis yang mereka wakili tidak sejalan lagi dengan kepentingan rakyat. Untuk itu, jargon ‘politik no, pembangunan yes’ yang diusung oleh pemerintah, menjadi slogan yang ‘harus’ direalisasikan guna menghidari deviasi perilaku para intelektual, dimana peran intelektual pada saat ini disebut Michael Rush dan Philip Althoff (1983), mulai teralienasi/terpinggirkan.
Era pemerintahan Orde Baru mempunyai formulasi yang berbeda. Pada masa ini isu yang dikedepankan adalah ‘pembangunan di segala bidang’. bagaimana mayoritas lapisan masyarakat dapat merasakan kue pembangunan secara adil dan merata. Pada masa ini, hampir setiap komponen bangsa menjadi mandul, segala kekuasaan terpusat pada Presiden. DPR sebagai legislatif  diposisikan sebagai ‘partner’ dalam arti negatif, bukan sebagai loyal opposition. Di tingkat akademis pun intervensi pemerintah terlihat mencolok. Program NKK/BKK yang dikeluarkan pemerintah pasca Malari 1974 ini mewajibkan segala aktivitas yang dilakukan intelektual harus diketahui dan dipertanggungjawabkan kepada Rektorat atau petinggi kampus. Program ini adalah ‘pemasungan’hak politik intelektual sebagai agent of change dan social agent dalam menggali ide dan beraktivitas di tengah masyarakat.
 Intelektualitas dan Profesionalitas
Pemikiran intelektual sekarang diharapkan tidak hanya terjebak pada seputar ilmu pengetahuan secara statis. Dikotomi antara profesionalitas (intelektual) dan politisi yang sempat membuat hangat bursa kepmimpinan dan hampir semua lini kekuasaan, merupakan suatu contoh gambaran deviasi pemikiran  terhadap kedua domain tersebut. Profesionalitas tidak dapat menggantikan substansi politik. Substansi politik dengan profesionalisme merupakan syarat penting untuk menjalankan demokrasi dan praktik politik yang lebih detail lainnya (Didik J Rachbini).
Oleh karena itu, ada beberapa point yang sebaiknya dilakukan oleh kelompok ini. Pertama, kesadaran para intelektual harus terus digugah guna menciptakan inovasi menghadapi modernisasi dan globalisasi. Kehidupan bangsa sekarang tidak lagi berkutat pada lingkup nasional semata, tapi meluas pada hubungan bilateral, regional dan internasional. Kedua, berpartisipasi aktif dalam melakukan kajian-kajian yang lebih komprehensif dan konkret. Ketiga, selalu berpegang pada etika normatif dan humanis. Keempat, menempatkan posisi intelektual berada pada garis profesional. Dikotomi yang sering terjadi adalah bentuk pemikiran yang bisa berdampak pada sempitnya ruang pikir dan gerak intelektual dalam mengaplikasikan inovasi yang diperoleh secara objektif-rasional. Kalau kondisi buruk ini terus berlanjut, maka kita akan kesulitan untuk menjawab pertanyaan “Apa saja yang sudah dilakukan para inteketual Anda di negerinya sendiri?”.



0 komentar:

Post a Comment