Ketika Anak Berkata “Tidak”

Mengasuh anak adalah pekerjaan seru dan menantang. Mengapa? Karena kita dihadapkan pada seorang makhluk hidup yang terkadang membuat kepala berdenyut, mempunyai beragam kemauan dengan sedikit permakluman. Mereka bisa bertingkah laku seperti nyamuk, makhluk kecil yang menyebalkan, atau bisa seperti boneka teddy yang lucu dan menggemaskan. Mengasuh mereka menjadi menyenangkan apabila dilakukakan dengan sabar, penuh cinta. Tapi, ketika mereka mulai ‘bertingkah’ dengan cara uniknya, apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua?

Pertanyaan yang mengejutkan
“Bunda, kenapa air jatuhnya cepat?’, Tanya seorang bocah berusia 3,5 tahun kepada ibunya. Untuk menjawab ‘o itu karena gaya grafitasi nak’, sepertinya malah akan menambah waktu untuk menjawab pertanyan selanjutnya. Dengan sekenanya ibu menjawab ‘kan dari atas ke bawah dek’.
“Tapi pesawat dari atas kebawah kok nggak jatuh jatuh bunda?’, tanyanya lagi sambil bergumam. “Mmmh, kenapa ya..?’, ibu balik bertanya. Sekian detik terdiam, tiba tiba dia berteriak, “adek tau.., pasti karena ada pak pilot dan mesinnya’. Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum. Sang bocah pun merasa puas dan bangga bisa menemukan jawabannya.
Ketika balita, kita selalu dikejutkan dengan pertanyan lugu dan cerdasnya. Sepertinya energy dan pemikirannnya melesat cepat tanpa bisa kita pahami. Ada kebanggaan sekaligus ketakutan apabila mereka berfikir dan melakukan sesuatu tanpa pegawasan kita orangtuanya. Suatu saat mereka bisa mengambil gelas dan menuangkan minuman sendiri, meletakkan sepatu kakaknya ke rak sepatu, ngotot minta dibelikan pasta gigi beraneka rasa, merengek minta dipinjami pisau untuk memotong buah kesukaannya. Tapi disaat yang lain, mereka begitu manja untuk minta digendong atau didekap walau hanya sebentar.
Perlahan tapi pasti, kebiasaan yang mereka lakukan mulai berubah. Mereka lebih mandiri. Banyak orangtua yang tidak bisa memahami maksud anaknya yang menjerit minta diijinkan main hujan hujanan, padahal anak hanya ingin merasakan butiran air yang jatuh bersamaan di atas kulitnya. Atau bagaimana anak ingin tahu respon orangtua ketika mereka secara diam diam mencoret coret buku kerja ayah.
Beberapa dari orangtua menganggap kemauan anak adalah sesuatu yang harus dituruti.” Wah, kalau tidak dituruti bakal guling guling bu, bikin malu saja”, seorang ibu muda sedikit ngomel ketika anak semata wayangnya minta dibelikan boneka hello kitty di pasar. Atau ayah yang bersikap permisif dan menuruti semua kemauan anak, malah menawarkan sesuatu yang lebih bagus dan banyak lagi dengan alasan kasihan atau sebagai kompensasi atas keterbatasan waktu menemani si kecil. Tanpa disadari, dengan sikap demikian kita malah menjadi orangtua yang ‘tidak sayang’ dengan anak. Kita justru mengajarkan kepada anak bagaimana caranya menjadi manusia dengan tingkat egoisme tinggi.
Jangan Bantah Bunda!
Seiring berjalannya waktu, anak menjadi lebih hidup dengan kebiasaan dan teman teman barunya. Mereka mulai ‘terkontaminasi’ dengan bahasa dan perilaku asing. Orangtua merasa semakin tak bisa memahami mengapa sang buah hati lebih senang bermain dengan anak tetangga daripada diajak berkunjung ke saudara. Atau mengapa dengan mudahnya mereka berkata ‘tidak ‘ ketika diminta melakukan ritual bersih bersih sebelum tidur. Dimulai ketika usia Sekolah Dasar, orangtua semakin tak bisa membujuk anak untuk mengikuti kemauannya. Mereka merasa sudah besar dan menyadari bahwa dunia luar lebih menyenangkan dan ramai daripada di rumah. Kata ‘malas’, ‘tidak mau’, menjadi kata ampuh yang membuat orangtua kesal dan mengurut dada. Bantahan mereka jelas membuat orangtua sangat kecewa dan marah. Harmonisasi hubungan orangtua dan anak pun semakin kabur.
Nak, yuk kita bicara!’
Ketika orangtua merasa mulai ‘kehilangan’ si kecil nya, tak ada yang bisa dilakukan kecuali berdiplomasi dengan mereka. Ajak mereka bicara dengan cara dan dari sudut pandang mereka. Mungkin bisa dilakukan sebelum tidur, sambil bermain game atau ngobrol santai di teras. Dengan begitu, besar kemungkinan akan terjadi kesepakatan yang menyenangkan. Misal, ketika anak tidak mau belajar di malam hari atau tidak mau diajak sholat berjamaah. Mungkin jam belajar perlu dipindah menjadi sore dengan suasana santai, tenang dan tanpa nyala tv. Untuk sholat, ada baiknya tidak usah membaca surat yang panjang, bersama mencari informasi melalui buku atau internet manfaat sholat berjamaah, bagaimana Rasulullah melaksanakannya dan sebagainya. Intinya, sebagai orangtua kita tidak bisa sebebasnya mengatakan ‘harus’, ‘tidak boleh’ tanpa disertai argument yang jelas. Kalau kita tetap melakukan itu, bersiaplah anak akan melakukan yang sama terhadap orang tua. Kata ‘tidak’, ‘malas’, akan terus mengawali perdebatan panjang dengan mereka.’Mari, ajak mereka bicara!.

0 komentar:

Post a Comment