BIP Gathering 2018, Workshop Bergizi untuk Penggiat Literasi


Storytelling di BIP Gathering 2018


Setelah dokter mengatakan saya sudah boleh berjalan pelan dan belajar tidak menggunakan kruk –atau setidaknya satu dulu-, saya minta izin pak suami dan dua Nusantara untuk bisa menghadiri acara BIP Gathering  2018 yang akan diselenggarakan di Perpustakaan Nasional  Republik Indonesia, Gambir, Jakarta, 26 September 2018. Alhamdulillah izin didapat.

Kenapa saya semangat sekali untuk datang? Pertama, karena saya ingin kenal dengan penggiat literasi terutama yang berada di dalam naungan Gramedia. Kedua, materi workshopnya itu keren banget, yaitu story telling, disampaikan oleh Kak Edward Suhadi, mantan fotografer terkemuka yang sekarang fokus di usaha creative agency bernama Ceritera. Ketiga, ingin menengok ibu mertua dan keponakan yang baru saja melangsungkan pernikahan. Kempat, berjumpa dengan para sahabat semasa SD yang bekerja di Jakarta. Sebenarnya sih berharap bisa berkunjung ke saudara yang lain, tapi saya cukup tahu diri dengan keterbatasan waktu dan fisik ini. Hope someday....

Perjalanan memakai kursi roda


Setiba  di bandara Raden Inten, Vini, adik yang berangkat bersama ke Jakarta langsung memesan kursi roda saat check in. Enggak kebayang lah saya yang jalannya masih seperti siput dengan kaki yang terkadang nyeri ini warawiri tanpa kursi roda. Bakalan lelah Hayati, Baaaang. Alhamdulilah, setelah menandatangani surat tidak memiliki penyakit  lain dan izin menggunakan wheelchair, satu petugas siap mengantarkan menuju pesawat. 

Mping Vini yang setia mendampingi. makasih adikku sayang :)
Oh, iya, sebelumnya kami menunggu di waitingroom bersama seorang ibu yang juga memakai kursi roda. Beliau sendirian, loh. Katanya sudah biasa. Kami pun ngobrol. Sempat tersenyum kecut saat mengetahui saya dan beliau sepertinya nyaris terlambat terangkut. Duuh, gimana kalau beneran ketinggalan, coba?

Kami menuju lantai dua melalui jalur lift, berbeda dengan penumpang lain yang menggunakan tangga biasa. Di pintu pesawat, kakak pramugari dengan sigap menyambut dan membimbing saya duduk di kursi. Terimakasih.


Pukul 12.45 wib di Bandara Soekarno Hatta (Soeta) petugas wheelchair dari maskapai sudah siap menunggu di pintu ke luar dan mengantar hingga ke loket Damri. Cukup menyediakan uang 40.000/orang, kami sampai di Gambir dalam waktu kurang lebih satu jam. Makan di CFC, lanjut menuju Hotel Grand Cemara yang sudah di-booking oleh adek sepupu yang lain via Traveloka. (terimakasih, Sofi..:)  Saya harus segera rebahan mengingat kaki ini sudah ngilu-ngilu nyeri gimanaaa gituuh.

Menjelang magrib, Ria dan Rindang datang, dua orang sahabat semasa SD yang selama puluhan purnama tak bersua. Kami cerita seseruan dan makan bubur ayam  Wempy yang uenake poool. Tak lupa kami foto-foto, dooong. Cekrek...cekrek.. mamas penerima tamu beralih profesi menjadi pengarah gaya. Hahaha...


Lanjut kloter kedua menerima kunjungan dari para adik sepupu, Etoy dan Rama. Lagi-lagi kami foto beraneka gaya sambil cerita plus cekikikan. Berasa itu kamar hotel ngak ada tetangganya, hihihi. Jam 00.15 Rama pulang. Saya, Vini dan Etoy siap terlelap. Zzzz....zzzzz...zzzz

Mping, aku, Etoy dan Ama. Sepupu yang seruuu :)

Perpustakaan yang nyaman

Jam 7.30 kami menuju gedung perpustakaan yang hanya berjarak kurang lebih 3 kilo. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai di situ menggunakan grabcar.

Pertama kali menginjakkan kaki, saya teringat pada rumah seorang angku  yang mirip rumah Belanda. Auranya  seolah hidup di masa kemerdekaan. (Ih, kayak pernah aja, hehehe). Dulu sewaktu kecil, setiap ke rumah angku kami selalu dorong2an siapa yang duluan masuk. Pintu yang tinggi, suara berderit dan lantai pualam yang mengkilat dan berwarna gelap, bikin kami deg-degan, berasa akan menemui sesuatu yang menegangkan di dalamnya (efek sering baca buku Trio Detektif kayaknya). Tapi pas melihat ada taman kecil dan penghubung ke dapur dan kamar pengasuh, baru deh lega n nggak deg2an lagi. Hiihihi.

Memasuki pintu bangunan pertama menuju perpustakaan, pengunjung disambut oleh foto-foto, miniatur,  slide yang gambarnya bisa berubah2. Ada juga poster berikut quotes2 dari pahlawan nasional dan mancanegara, kursi zaman dulu kala, dan bayak lagi. Menggoda untuk foto-foto eh dipelajari. 
Mbak Watiek Ideo, aku dan Mbak Maya.
Saya tak terlalu banyak mengamati karena waktunya mepet plus juga terharu karena akhirnya bisa bersua dengan Mbak Watiek Ideo, rekan duet di buku seri Aku Cerdas Mengelola Emosi, Aku Cerdas Mengelola Uang, Aku Cerdas Mengelola Waktu serta Princess Muslimah 3 dan 9 Kebaikan Kasih Sayang. (sudah heboh2an sebelumnya via wa, hihihi). Ternyata doi berpostur tubuh kurus tinggi. Beda banget sama saya yang.... yang.. begitulah kira-kira.. *liriktimbangan J. Intinya mah saya seneeeeng banget. Ada juga bersua dengan Mbak Maya, Mbak Irma Irawati, Mbak Dian, Mbak Nova, Kak Damar, Mbak Deesis, Mbak Nonik  dan puluhan penggiat literasi lainnya. Beliau-beliau ini luar biasa membantu saya supaya tak terlalu banyak warawiri. MasyaAllah, terimakasih, Sahabats...

Ada space outdoor dari bangunan pertama menuju gedung perpustakaan yang luas dan bersih. Asyik banget untuk foto-foto. Sungguh. 


Ide mendirikan gedung perpustakaan sudah ada di zaman Soekarno. Ditindaklanjuti oleh pemerintahan SBY dan diresmikan pada 14 September 2017 oleh Presiden Jokowi. Selama  2 tahun  6 bulan, bangunan 27 lantai ini akhirnya bisa berdiri gagah dengan fasilitas lengkap, cukup ramah untuk teman-teman disabilitas dan merupakan pperpustakaan tertinggi di dunia. Wah, keren, yaa. Saya baru menjelajah di lantai dasar dan lantai 4. Berharap satu saat bisa ke sini lagi dan ngendon berjam-jam. Secara bisa dipastikan nyaman bangeeet.
Ini rak buku, looh..

Jam 8.45 acara dimulai. Kami mendapatkan goodibag berisi nametag, namecard, notes, pena, botol minum dan sekotak kudapan enak. Peserta yang diundang kurang lebih 75 orang, berasal dari Jakarta, Bekasi, Depok, Jawa dan Sumatera.

Setelah pembukaan oleh Pak Wandi S, workshop yang bertema Re-create your idea ini langsung menghadirkan keynote speaker, Kak Edward Suhadi dengan materi Storytelling X Branding = Amazing.

Kak Edward Suhadi

Apa yang dimaksud story telling dan branding?
Bagaimana cara mengumpulkan ide dan mengeksekusinya?
Perlukah jurnal kreatif?
Rugikah berbagi?
Seberapa banyak ide bisa ditampung?
Dan puluhan pertanyaan menarik lainnya.

Baiklah, insyaAllah materi ini akan ada di postingan berikutnya. Sementara sang penulis bahagia mau mempelajari catatan dulu, yaa :)




Salam,
Fitri Restiana






Pentingnya Belajar Public Speaking



Pentingnya Penting Belajar Public Speaking


Jumat, 16 Maret 2018

Tersebab hujan, saya agak terlambat sampai di kantor ACT Lampung untuk mengikuti salah satu acara keren dari Tapis Bloger, TapisBloggerGathering4XACTLampung dengan tema ‘Ngeblog Hingga Ke Luar Negeri dan Pelatihan Mini Public Speaking’ oleh Kak Indra Pradya (www.duniaIndra.com).

Tadinya sudah berencana, kalau hujan masih terus membasahi bumi,  biarlah sang penulis bahagia ini melewatinya dengan ditemani Kak Gocar. Tapi tak sampai sepeminuman teh, Allah memerintahkan hujan untuk berhenti sejenak dan membiarkan makhluk2-Nya beraktivitas dengan sempurna. Termasuk saya. Alhamdulillah.

14.15 wib.
Memasuki kantor ACT yang sejuk, bersapa ramah dengan Kak Indra, Kak Hermawan dan Kak Dilla. Lanjut menuju lantai dua. Ternyata sudah banyak yang datang, pemirsah. Biasa dooong, kangen-kangenan n cipika-cipiki dengan para nona n nyonyah. Berasa puluhan purnama tak bersua. Berkenalan juga dengan teman-teman baru.  Aah, nikmatnya bersilaturahmi. :)

Sebagian besar peserta TapisBloggerGatheringXACTLampung


14.35 wib, acara dibuka oleh Kak Yoga, sang penulis begal cinta. Diteruskan dengan sambutan oleh Mbak Naqiyyah Syam selaku founder Tapis Blogger dan Umi Dian, Kepala Program ACT. Umi Dian juga menampilkan mini movie tentang kehidupan kemanusiaan di Ghouta, Palestina dan beberapa daerah di Lampung yang beberapa waktu lalu terkena banjir. Ya Allah, karena saya enggak sanggup menyaksikannnya, jadi penglihatan saya alihkan ke handphone sambil terus beristighfar. Sedih, sediiiih sekali melihat saudara kita yang sedang dihantam ujian bertubu-tubi. (Mengenai kegiatan ACT, insyaAllah akan saya tuliskan di postingan kedua acara TapisBloggerGathering4XACTLampung).
 
Yoga Pratama, penulis multi talenta
Pandangan saya ke Kak Indra sih masih sama seperti saat pertama kali bersua (http://www.fitrirestiana.web.id/search?q=kongkow+di+cikwo). Ramah, rame, humble, santun dan seru. Asyik diajak ngobrol dan berbagi ilmu. Dan itu masih sama di pertemuan kami kali ini.

Umi Dian, ACT Lampung

Well, berikut sebagian hasil sharingnya. Bagaimana dia berjuang hingga sampai di titik ini, menjadi salah satu mc cetar dan blogger super dengan pengalaman yang luaar biasyaah...Dan perlu diingat, beliau menekankan bahwa ini bukan memberi ilmu, tapi lebih pada berbagi pengalaman. Woow!

Kak Indra. Mc, Singer, Trainer, Blogger yang supernya kuadrat :)

Kunci mengembangkan diri.

1. Passion
Passion adalah sesuatu yang kita tak pernah bosan melakukannya. Ada gairah, semangat dan harapan. Menjaga passion tetap ada bahkan meningkat akan membuat kita tetap fokus dengan tak mengabaikan kemampuan lainnya.

2. No limit standard
Jangan pernah terjebak oleh batasan-batasan yang kita buat sendiri. Misalnya usia, fisik dan alasan lainnya yang kita anggap menjadi alasan kita tak sanggup  melakukan sesuatu.

3. Opportunity meet ability
Peluang adalah manakala kesempatan bertemu dengan kemampuan dan kemauan. Maka ketika kesempatan datang, ambillah. Kita tinggal mengasah kemampuan dan kemauan dengan lebih serius lagi untuk bisa sampai ke tangga di atasnya.

4. Content marketing and sell your self
Ketika kita menyadari memiliki ‘sesuatu’ di dalam diri kita, maka rencanakan apa yang bisa kita ‘pasarkan’. Memperkenalkan lalu menjual potensi yang kita punya dengan cara yang elegan dan santun. Ini harus dijalankan dengan penuh kesadaran, keseriusan dan rasa persahabatan sehingga orang lain tertarik dengan apa yang kita miliki dan mampu lakukan.
 
Pas banget yang ulangtaun jadi pemenang lomba Ig. Selamat, ya, Tante Puspa Fajar.

Waaah, mantabs kan ilmu dari Kak Indra? Secara kadang mah ya kita sering enggak pede, kalah sebelum berperang, sungkan, dan sebagainya dan sebagainya. Adaaa aja mencari pembenaran atas kemalasan kita. Hiks. Malu jadinya...

Nah, ilmu lain untuk mengmbangkan diri antara lain KONSISTEN, RESPONSIBILITY, NETWORKING n KEEP YOUR SPIRIT UP. Clear, yaa! :)

 
Hidangan dari ACT. Hmm, nyam,nyam, yaaam.

Tips Menjadi Pembicara yang Baik (belajar public speaking)

1. Banyak Membaca.
Tanpa membaca, kita tak akan memiliki banyak kata untuk diungkapkan. Membaca sangat penting untuk meluaskan pemikiran dan menambah kosakata.

2. Sering latihan. Trial dan error.
Bicara bergizi tentu saja harus melalui latihan. Sama seperti saat kita memasak. Makin lama harus makin enak. Terus mencoba hingga sempurna. Kak Indra pernah cerita kalau dulu pernah dilempar botol minum kosong karena ‘garing’ saat menjadi MC, tapi dia jadi tambah semangat belajar untuk lebih baik lagi, lagi dan lagi.

3. Kenali audience.
Ini sangat penting karena berkaitan dengan kostum, cara penyampaian dan gaya bicara. Menjaga keakraban secara proporsional juga jangan dilupa.

4. Sigap mengatasi gugup.
Terkadang kita mengalami gagap dan gugup, tiba-tiba merasa ‘blank’. Tak apa. Itu adalah sesuatu yang wajar. Maka yang harus kita lakukan adalah menenangkan diri, mengulang obrolan sebelumnya dan menguraikan kegugupan ke area tubuh yang tak biasa dilihat. Misal menggerakkan kaki dengan pelan.

5. Menggunakan bahasa tubuh yang baik dan benar
Lakukan dengan tulus dan tak berlebihan.

Kak Indra berkisah, untuk sampai di titik ini, doi memulainya dari masa SMA. Bersikeras ke Bandarlampung meninggalkan kampung halaman di Desa Kayu Batu dan Blambangan Umpu, dia diijinkan tinggal bersama tantenya. Pergi pagi pulang malam karena banyak mengikuti kegiatan, terutama di bidang teater dan seni. Bersyukurnya seluruh keluarga besar sangat mendukung.
 
Sengaja duduk di samping Kak Indra. Semoga kerennya nular ke saya, hihihi.

Puluhan prestasi ditorehkan lelaki berperawakan sedang ini. Dia ingat kata mama tercinta, “Indra, pintar akademik itu baik. Tapi Mama membebaskan kamu memilih mana yang akan kamu tempuh. Kembangkan minat dan bakatmu.” Waah, mama yang hebat, ya? (Memang mama2 zaman dulu itu luar biasa ilmu parentingnya. Alfatihah untuk orangtua kita yang sudah berpulang, ;( )


Menjadi blogger

Selama beberapa tahun, Kak Indra aktif di Sangggar Tari Tapis Berseri Bandarlampung binaan Ibu Nurpuri Eddy Sutrisno (walikota Bandarlampung) dengan bidang keahlian bernyanyi dan ngemce. Menjadi Mekhanal Pariwisata pada tahun 2002 membuat namanya semakin berkibar di dunia entertainment. Keaktifan doi mengantarkannya menjadi PNS dan langsung ditempatkan di Dinas Pariwisata. Baginya, konsisten dan all out merupakan sebentuk rasa syukur atas kepercayaan yang Allah SWT berikan. Bersyukurnya doi dikelilingi orang-orang baik yang banyak membantu tanpa pamrih.

Sampai saat ini, Kak Indra dikenal sebagai salah satu mc, trainer dan blogger super plus cetar Lampung yang tulisannya bisa dibaca di www.duniaindra.com.
Oh, iya, doi juga sudah beberapa kali ke luar negeri tersebab passionnya ini, loh. Mupeng, kaaaan?

*****

Menjawab beberapa pertanyaan dengan rendah hati. Meladeni sesi foto-foto dengan gaya yang bersahabat. Ahh, next, insyaAllah kita bisa dipertemukan lagi dalam suasana yang lebih bahagia, ya, Kakak Indra.

Terimakasih atas sharingnya.

Oh iya, tentu ada lomba di tiap acara Gathering Tapis Blogger. Dan inilah pemenangnya. Kak Latifah, Tante Puspa dan Tante Dwi. Selamat, yaa.. :)


Para pemenang yang bahagia

Terimakasih sangat pada ACT Lampung yang sudah memfasilitasi acara ini dengan  amat sangat baik dan santun.

Terimakasih para sponsor yang baik hati, Kak Ikhsan (Aura Publishing) dan Umi Nur ani (Thasya Busana).
 
Terimakasih atas ide dan kerja keras cerdasnya, teman-teman Tapis Blogger.

Semangat berbagi kebaikan kita, ya. InsyaAllah!


Saatnya pulaaaang....
 Foto : Dokumentasi pribadi dan beberapa peserta Tapis Blogger Gathering 4.

 
Tabik,

Fitri restiana, sang penulis bahagia.

Foto 

Tips untuk Penulis Pemula, Bincang Seru bersama Duajurai.co




 Facebook adalah  dunia maya pertama  yang menghubungkan saya dengan Bang Juwendra Asdiansyah (DuaJurai.co) Sebenarnya kami satu almamater (Universitas Lampung), tapi dulu tak saling kenal. Mungkin karena dunia pertemanan yang jauh berbeda. Saya di bagian utara dan timur,  beliau di bagian selatan, tenggara, barat daya dan sebagainya. Maklum, Bang Juwe sepertinya memang jurnalis dari zaman kuliahan. Sementara saya, penulis bukan, jurnalis apalagi, artis lebih enggak mungkin. Hihihi..

Lalu di satu masa, kami sempat tatap muka di acara khitan Nuh, putra sulung Bang Adian Saputra (Pemred Jejamo.com). Cuman sekedar say hello. Ngobrol-ngobrol di dunia maya, terungkap kenyataan bahwa ternyata Bang Juwe adalah kakak ipar Mbak Heni Puspita, mama blogger yang super keren, sahabat saya dari Tapis Blogger. Woow, bersyukur dan beruntung sekali saya bisa terhubung dengan manusia-manusia nyentrik  ini. Alhamdulillah.

Lalu dengan santun beliau mengajak saya bergabung di grup wa dengan nama ‘Pembaca duajurai.co” yang penghuninya bikin saya keder, minder n baper. Tapi syukurlah, berkat suntikan PD dari Bang Juwe, saya berhasil melewati masa transisi itu dengan bijaksana. :)



Hingga akhirnya beliau mengutus seseorang untuk bincang-bincang bersama #penulisbahagia ini (baca : ngobrol seru tentang kepenulisan dan buku), namanya Kak Fahima, mahasiswi FKIP Unila jurusan Bahasa Perancis yang sedang magang di duajurai.co.  Orangnya asyik, manis dan intonasi bicaranya teratur plus bersahabat.


Banyak yang kami obrolin. Mulai dari buku,  anak-anak, waktu menulis, bahkan ngorek-ngorek masa kuliah yang kalau dibikin novel kayaknya bisa ratusan halaman, wkwkwkwk.. Gimana enggak, coba. Lima tahun, eeuy! Pasti banyak cerita mengharu biru cetar membahagiakan. Uhuk!

“Apa saran Mbak Fifi untuk para penulis pemula?”

“Sederhana aja, Kak. Pertama, cinta membaca. Dua, semangat belajar, enggak mutungan alias pantang menyerah. Tiga, rendah hati dan mau mendengar. Empat, ikuti komunitas kepenulisan. Lima, berani dan percaya diri mengirim tulisan ke media,” jawab sang #penulisbahagia sembari memandang cangkir kopi yang nyaris kosong.


Kak Fahima khusyuk mendengar diselingi pertanyaan balik dari sayah. :)

 Well, karena sudah lebih dari satu jam dan saya ada janji akan menemui keponakan yang baru datang dari Jakarta dan akan balik lagi, jadi perjumpaan di salah satu tempat makan dan nongkrong deket rumah ini disudahi dulu. Alhamdulillah.



Terimakasih Bang Juwe, Kak Fahima dan Duajurai.co.
Semoga selalu menginpirasi dan menaburkan banyak kebaikan, ya. Aamiin.

Ini liputannya. Semoga berkenan. :) 


#FitriRestiana
#Duajurai.co
#BukuAkuCerdasMengelolaUang
#BukuPetualanganKeNegeriAkhlatusia
 #Gramedia
#TigaSerangkai