Resensi Buku Dear Nathan



 
Menghargai Perasaan Cinta milik Remaja



Cinta itu tak bisa dipaksakan. Ia hadir dan masuk ke dalam hati  terkadang tanpa diundang. Merupakan tindakan yang bijak jika kita mampu menjaganya agar tetap terpelihara dengan baik, bahkan memupuknya hingga tumbuh menjadi sebentuk ikatan yang suci dan berkah.

Buku Dear Nathan memcoba memahamkan tentang cinta pada remaja. Bagaimana perasaan itu muncul dan mulanya tertolak, namun akhirnya mampu menyapu semua rasa ragu dan takut. Nathan, seorang pelajar SMA yang ‘luar biasa’ bisa jatuh hati pada anak baru, gadis mungil dengan rambut sebahu, Salma namanya.  Bermula dari pertemuan di gerbang sekolah, Salma sangat ketakutan karena datang terlambat. Tetiba datanglah Nathan menawarkan bantuan yaitu menyelinap melewati gerbang samping sekolah. Melihat penampilan yang sedikit urakan, tentu saja Salma tak berani menerima. Tapi akhirnya dia luluh juga dan mengikuti Nathan dari belakang. Salma berhasil masuk, sementara lelaki berambut melebihi kerah leher itu malah minggat alias bolos!   

Kali kedua pertemuan mereka adalah dengan cara yang aneh. Karena ulah Jaya, sepatu Salma dilempar dan mengenai kepala Nathan. Salma harus mengambilnya walau dengan keringat yang menderas di dahi. Nathan malah dengan entengnya tersenyum dan tertawa melihat sang gadis pucat dan ketakutan. “Berhubung kamu pucat banget, saya jadi enggak enak. Lain kali, kalau ketemu sama saya biasa aja. Saya jinak, kok, nggak bakalan berani gigit.” (halaman 34)

Kali ketiga saat Nathan di depan mata kepalanya dikeroyok oleh belasan kakak kelas. Salma pingsan sehingga dibawa ke UKS. Nathan menyusul ke UKS, bukan untuk mengobati luka, tapi memberikan secangkir teh hangat untuk Salma.

Pertemuan selanjutnya diisi dengan kejahilan, keluguan dan banyak kejutan. Bagaimana seorang Nathan yang terkenal super cuek dengan perempuan, memberikan perhatian lebih pada Salma yang enggak cantik-cantik amat dan seksi seperti Serin atau Dinda, cewek yang selalu mengejar-ngejar Nathan. Satu kalimat yang membikin Salma terngaga di halte sekolah adalah saat Nathan berkata, “Meskipun saya tampangnya berandalan, tapi saya amat sangat menghargai perempuan. Perempuan itu kayak kaca, kalau retak ya bakalan retak seumur hidup dan nggak bakal bisa balik kayak semula. Gimana pun caranya... Entar malam saya sms, ya.” Salma termangu dan membeku sejenak mendapat perlakuan yang lembut seperti itu.

Kejahilan lelaki bertubuh tinggi itu pada orang lain selalu berbanding dengan kebaikannya pada Salma. Nathan yang sering mengambil minuman Afifah dan membagikan ke teman-temannya, yang berkelahi hingga dihukum berkali-kali, yang terlambat ke sekolah, yang tak mengerjakan pr, dan banyak lainnya. Sementara di depan Salma, dia selalu terlihat tenang, tulus dan penuh kesantunan. Terkadang Salma berpikir bahwa Nathan punya kepribadian ganda.

Pada suatu kesempatan sepulang dari toko buku, Nathan mengungkapkan perasaannya. “Saya cinta sama kamu. Enggak usah kamu jawab sekarang. Belum waktunya. Saya akan mengatakan itu lagi nanti.... setelah kamu benar-benar cinta sama saya.”  Sungguh, Salma merasa tegang dan tak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menjawab, “ya sudah.” Selanjutnya, jawaban gadis yang sedikit kaku itu membuat Nathan ragu, apakah Salma benar-benar mencintainya.

Di sela kedekatannya dengan Salma, datanglah seorang teman masa kecil Nathan, Seli. Darinya Salma bisa tahu bahwa mereka dulu sempat berpacaran (cinta monyet) dan Seli masih mencintai Nathan. Satu lagi, ternyata Nathan memiliki kembaran yang sudah meninggal dua tahun yang lalu. Kematian kembarannya membuat Nathan didera rasa bersalah hingga saat ini. Berkali-kali Seli mencoba mendekatkan diri dengan Nathan. Tapi seberapa pun keras usahanya, hanya Salma yang ada di hati lelaki berambut gondrong itu.

Masalah lain yang dialami laki-laki yang selalu berusaha menutupi kesedihannya itu adalah tentang ibunya yang mengalami gangguan jiwa dan sedang dirawat di paviliun, juga tentang ayah yang menikah lagi. “Hanya ibunya yang bisa menyusun kepingan hati Nathan yang patah berkali-kali. Hanya ibunya yang mampu menjemput senyumnya yang kerap mati suri. Hanya ibunya yang mampu menolongnya dengan hati nurani” (312). Sungguh Salma tak menyangka begitu berat ujian yang harus dilewati Nathan. Selama ini dia berpikir bahwa kenakalan lelaki itu memang dari sananya. Ah, Salma merasa tak enak hati dan berniat akan menemani Nathan melewati semua ini. Walau, tentu saja akan ada banyak pertentangan hati dan kisah-kisah tak terduga yang menyertainya.

Membaca novel seorang penulis muda asal Lampung ini benar-benar membuat pembaca ikut larut di dalamnya. Kelakuan  yang konyol beriringan dengan perilaku hangat penuh persahabatan. Banyak makna yang tertuang dalam buku setebal 528 halaman ini.  Tentang cinta, keluarga, pertemanan dan persaudaraan. Penulis mampu mengaduk emosi pembaca dengan gaya bahasa yang luwes, seru, lucu dan terkadang mengharu biru.

Pemilihan kata tersusun manis dengan irama yang terkadang mendayu sesekali menghentak. Nyaris tidak ada yang tidak pas dalam novel ini. Buku yang sangat pas dibaca oleh para remaja, juga orangtua.

Judul Buku      :  Dear Nathan
Penulis             : Erisca Febriani
Penerbit           : Best Media   
Tebal Buku      : 528 halaman
ISBN               : 978-602-6940-14-8
Tahun terbit     : 2016

*******


“Coba deh sekali-kali kamu main ke hati saya, siapa tahu betah.”  (183)

“Kamu itu ilusi. Ilusi yang membelenggu. Atau justru ilusi yang diciptain oleh saya sendiri. Kasih saya kepastian, sebenarnya kamu suka sama saya atau enggak?” (214)

“Seandainya saya jadi cowok pertama yang menginjakkan kaki di hati kamu, gimana? Kira-kira keberatan?. Bakal saya coba, Sal. Bakal saya coba.”  (226)

“Tahu nggak kalau obor Monas dari puncak itu menyerupai perempuan yang lagi duduk?  Kalau kita berdiri di halaman istana Presiden. Ada yang bilang kalau itu sebagai wujud Bung Karno yang sangat menghargai perempuan.” (242)

“Cuma aroma cologne  bayi sama minyak telon, tapi kok bisa buat saya deg-degan?” (266)

Hanya ibunya yang bisa menyusun kepingan hati Nathan yang patah berkali-kali. Hanya ibunya yang mampu menjemput senyumnya yang kerap mati suri. Hanya ibunya yang mampu menolongnya dengan hati nurani. (312)

Kedinginan. Mengharap ada tempias, mengetuk rindu di dada. Hujan memecah keheningan. Menemani jiwa-jiwa yang diaduk di atasa kerinduan. Terdiam dengan detak jantung tak beraturan, angin berembus dan menemukan seseorang sedang menangis diam-diam. (313)

“Jatuh cinta itu enggak butuh alasan, Sal. Proses memulai jatuh cinta memang bisa terjadi tanpa alasan, tapi.. memepertahankan untuk tetap cinta atau melewatkan begitu saja, itu yang menurut saya harus butuh alasan.” (328)

Karena ibunya adalah tameng. Satu-satunya orang yang akan berani menerjang lupa dan menempuk batas rasa hanya untuk melindunginya.  Ibuny aadalah malaikat tanpa sayap. Satu-satunya orang yang selalu menemaninya kala tersesat sambil berpelukan di gumam dan doa tengah malam. (376)






“Apa saya harus terus menunggu, sementara yang ditunggu justru kepingin berlalu?” ((389)

“Hati cowok iu bukan baja, Sal. Hati cowok juga bisa retak karena terlalu lama menunggu senja, dan selamat, kamu udah berhasil ngeretakin hati itu.” (394)

Nathan tidak mengerti. Di balik amarah itu, ayahnya adalah seseorang yang paling memahami dan paling mengerti apa yang terselibut dalam pikiran dan keinginan anaknya. Di balik kata kasar itu, ada bahasa sederhana yang penuh makna dan kebaikan. Berharap agar anaknya sadar akan sesuatu yang semestinya diperbaiki. Berharap bahwa kata dapat membuka mata hati. (455)

“Tugas saya hanya sbatas mencintai, bukan memaksa agar dicintai. Saya percaya tiap hati pasti ada pemiliknya masing-masing. Dan seandainya pemilik hati kamu adalah saya, ke mana pun kamu pergi, hati itu pasti akan kembali ke pemilik sejati dan Tuhan punya seribu satu cara untuk mendekatkan kita lagi. Tapi kalau bukan milik saya? Tuhan juga punya banyak cara untuk nemuin kamu dengan yang lain.” (487)

Dear, Nathan. Terima kasih untuk semuanya. Pelajaran kehidupan dan pelajaran betapa  pentingnya menghargai perasaan. (520)


Buku Dear Nathan. Erisca Febriani, 2016.


**********

Buku yang bikin baper akut. Merasa dibawa ke masa puluhan tahun yang lalu, J Two thumbs up!


By Fitri Restiana


Resensi Buku Kanker Bukan Akhir Dunia



Berdamai dengan Kanker

           
Penulis : Tri Wahyuni Zuhri
Jangan abaikan jika kondisi kesehatan Anda menurun secara perlahan dan terus menerus. Segera lakukan pemeriksaaan. Bisa jadi Anda sedang menderita suatu penyakit yang perlu penanganan khusus. Bukan menakut-nakuti, tapi kita harus waspada!

Itulah salah satu pesan yang tertuang dalam buku yang ditulis oleh seorang survivor kanker, Tri Wahyuni Zuhri. Dalam buku ini, beliau berusaha mengupas tuntas tuntas masalah kanker, penyakit yang semakin lama semakin banyak diderita manusia tanpa pandang bulu. Bagaimana dia merasa down/jatuh ketika dokter  memvonisnya menderita kanker tyroid stadium lanjut dan telah bermetasis (menyebar) ke tulang belakang, menjadi kisah yang memilukan sekaligus menguatkan (hal 4)

 Tentu saja penyakit ini membuat down kaum perempuan. Berdasarkan data dari Serikat Pengendalian Kanker Internasional dan WHO, pasien kanker di seluruh dunia diprediksi akan melonjak 300% di tahun 2030. Fakta yang lebih mengejutkan, sejumlah 70 persennya akan berada di negara-negara berkembang, dimana Indonesia adalah salah satunya. Begitu pun data yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan Tahun 2012. Kalau data sebelumnya pasien kanker 1:1000, maka untuk tahun 2012 berubah 4,3:1000. Angka yang cukup mencengangkan sekaligus mengkhawatirkan.

Sebenarnya banyak penderita yang sudah merasakan gejala penyakit ini. Namun dikarenakan ketidaktahuan, penderita mengabaikannya dan menganggap itu penyakit biasa. Seperti gejala sering pusing, nafsu makan berkurang dan sesekali pendarahan. Untuk itu, Tri Wahyuni memaparkan seluk beluk kanker mulai dari berbagai keluhan,  antisipasi, alternatifpengobatan dan bagaimana harus bersikap dan menanganinya (hal 25)

Tindakan pencegahan tentu menjadi langkah awal dan utama sebelum kanker menggerogoti tubuh kita. Menjaga pola makan, menghindari rokok dan alkohol, berolahraga, menjaga berat badan dan deteksi dini merupakan sikap yang bijak dalam mengantisipasi datangnya kanker. Untuk deteksi dini, penulis memaparkan secara rinci dan disertai gambar yang dengan mudah diikuti dan dipelajari.

Dimuat di Lampung Post, 22 Maret 2015

Walaupun kanker juga bisa menyerang kaum Adam, tetap saja penyakit ini lebih banyak diderita oleh kaum perempuan. Sebut saja kanker payudara, kanker serviks, kanker ovarium dan kanker tyroid.Semua jenis kanker ini sebenarnya bisa diobati dan sembuh apabila penderita melakukan deteksi dini dan peka terhadap kesehatan tubuh sendiri (hal 53)

Namun, apabila vonis sudah dijatuhkan, maka tak ada cara lain selain berjuang! Perempuan harus cerdas menghadapi kanker. Berkeluh kesah dan duduk diam tidak akan memperbaiki keadaan. Tumbuhkan semangat bahwa Tuhan pasti memberikan jalan. Mendekatkan diri pada Sang Pencipta, berusaha tenang,istirahat yang cukup, jujur pada diri sendiri dan seluruh anggota kelurga, dan tetap meneruskan hobby adalah beberapa kiat agar perempuan mampu menghadapi kenyataan.

Bagaimana pengalaman penulis bolak-balik rumah sakit juga tertuang gamblang dalam buku setebal 144 halaman ini. Mulai dari pemeriksaaan awal, memilih rumah sakit dan dokter, fasilitas dan alur perawatan, dan yang tak kalah penting adalah biaya pengobatan. Usahakan juga pasien membawa buku catatan untuk menulskan hal-hal penting selama dalam perawatan/buku diary.

Untuk lebih mendekatkan pada pembaca, Tri Wahyuni memberi kesempatan bagi para survivor kanker untuk berbagi kisah. Dia berharap, kisah yang tertuang akan mampu menguatkan para pasien kanker, apapun jenis dan bentuknya.

Buku ini sangat layak dijadikan salah satu sumber informasi dan edukasi yang penting dan inspiratif mengenai seluk beluk penyakit kanker. Informasi yang disajikan sangat runut dan mengedepankan sisi humanis dari pasien. Kalimat semangat dapat dinikmati dari kisah-kisah para survivor kanker. 

Di beberapa bagian, ada lembaran ‘Renungan’ yang berisi daftar pertanyaan untuk instropeksi diri. Seperti ‘Apa saja yang Anda lakukan untuk menjaga kesehatan?’, ‘Hal apa saja yang membuat Anda stres? Apa yang Anda lakukan untuk mengelola stres?’ dan sebagainya.  Jawaban dari pertanyaan ini bisa mengarahkan pembaca untuk menentukan sikap bagaimana  mencegah, menerima bahkan berdamai dengan  kanker.

Diresensi oleh Fitri Restiana. Penulis, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Lampung.

Judul Buku      : Kanker, Bukan Akhir Dunia
                          (Kiat-Kiat Cerdas Perempuan Menghadapi Kanker)
Penulis             : Tri Wahyuni Zuhri (IndScript Creative)
Penerbit           : PT. Elex Media Komputindo           
Tebal Buku      : 144 hlm
Tahun Terbit    : 3 November 2014
ISBN               : 978-602-02-5219-3





Cegah Hepatitis, Jangan Tunggu Sampai Kronis!



Minggu yang cerah di 30 Juli 2017.

Sinergi Kemenkes RI dan Tapis Blogger

Sedari subuh saya sudah harus mempersiapkan anak bujang untuk tampil di acara Pencanangan Tahun Keselamatan untuk Kemanusiaan atau Safety for Humanity oleh Ditlantas Polda Lampung dan Polresta Balam di Tugu Adipura. Tadinya sih mau ikutan nonton, tapi waktunya mepet banget dengan acara di Hotel Asoka. “It’s oke, Nda. Ini hanya tampil biasa, kok, bukan perlombaan. Bunda ke acara Bunda aja,” ujarnya santai. Fix. “Bismillah. Semoga kegiatan kita semua hari ini berkah, ya,” sahut saya sambil mengepalkan tangan. Biar kesannya bersemangat gituuh, xixixixi...
Patroli Keamanan Sekolah dan Polisi Cilik bersama Irjen Ike Erwin.
 Rencana bapak dan Arung untuk menonton Pandu gagal total. Doi ternyata baru bangun nyaris jam setengah 9. “Dedek mager, Nda,” jawabnya via wa. Yo weslah. Jadilah mereka berduaan saja di rumah, sementara emak dan si bujang melanglang buana..
 
Patroli Kemanan Sekolah
Hari ini saya dan 29 teman Tapis Blogger diundang oleh Kementerian Kesehatan RI untuk menghadiri acara Temu Blogger dalam rangka Peringatan Hari Hepatitis Sedunia ke-8  dengan tema “Eliminasi Hepatitis Menuju Keluarga Sehat, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa” di Hotel Asoka.  Saya datang agak terlambat gegara gagal janjian dengan Mbak Naqiyyah Syam dan sempat nyasar pula. Isshh...
Hotel Asoka, Jl. Jagabaya III, Bandarlampung

 Agak setengah berlari menuju ruang meeting dan langsung disambut wajah ceria para blogger dan panitia. “Ini goodie bag-nya, Mbak. Silahkan baju kaosnya langsung dipakai.” Wiih, untung saya pake kostum santai, coba kalau pake gamis resmi, apa nggak nubruk-nubruk tuh tampilan, hihihi. Beruntungnya kami, isi goodie bag nya keren. Selain baju kaos, topi, notes, tempat pinsil, ada satu yang mengingatkan saya pada Abah Nuh (Adian Saputra, pemred http://www.jejamo.com/), sebuah payung! Kok bisa? Iyalaah, hanya saya, Bang Yoppie, Kak Rangga, Mbak Naqqiyah dan Allah saja yang tahu ceritanya saat kami memenuhi undangan acara pressconference Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia di Hotel Novotel. Big thanks, ya, Broo. Aku jadi punya dua payung ketjeh, nih..
 
Goodie bag-nya keren :)

Oke, balik lagi ke acara Kemenkes RI.

Temu blogger ini merupakan salah satu rangkaian acara puncak Peringatan Hari Hepatitis Sedunia yang ditetapkan setiap tanggal 28 Juli, (tanggal kelahiran Baruch Samuel Bloomberrg, penemu virus Hepatitis B), dipandu oleh seorang perempuan berkacamata, Mbak Giri namanya. Selain berharap kami bisa menyimak materi dengan baik, beliau juga meminta agar para blogger aktif  melakukan live tweet. Tentu saja kami bersedia. Sebab kami menyadari betul pentingnya pengetahuan mengenai hepatitis demi agar banyak orang teredukasi dan bisa mencegah serangan salah satu penyakit berbahaya dan mematikan ini. Jadilah selama acara berlangsung jari –jemari kami bergerak lincah plus wajib bermanis manja dengan kata cetar, #EliminasiHepatitis dan @KemenkesRI. 



Tepat pukul 08.30 wib, dua pemateri dari Kemenkes, dr. Wiendra Wororuntu dan dr. Rhino Ghani bergantian memaparkan slide dan menjawab pertanyaan para blogger.

Oh iya, di saat yang bersamaan, Direktur Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. H. Mohamad Subuh mencanangkan komitmen Eliminasi Penularan Hepatitis B dari ibu ke anak tahun 2020 di Lapangan PKOR Way Halim, Bandarlampung di acara senam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang merupakan salah satu rangkaian Peringatan Hepatitis Sedunia.


Hepatitis, pahami gejalanya

Hepatitis adalah peradangan sel-sel atau organ hati yang disebabkan oleh bakteri, virus, proses autoimun, obat-obatan, perlemakan, alkohol dan zat berbahaya lainnya. Sedangkan hati atau liver adalah organ tubuh yang berfungsi mengatur metabolisme, membuat protein, menyimpan vitamin dan zat besi, mengeluarkan racun dan memproduksi empedu. Maka jika hati tak berfungsi dengan baik, dapat dipastikan akan terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh sehingga mengakibatkan penyakit serius bahkan kematian. 

Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang kelima jenis Hepatitis, yuk kita pelajari satu persatu.

1.     Hepatitis A
Suatu penyakit infeksi organ hati, penularannya melalui makanan/minuman yang tercemar  VHA yang berasal dari tinja penderita. Hepatitis A bersifat self limiting  (sembuh sendiri) dan tidak menjadi kronis. Namun walau demikian, tetap saja harus dicegah sedini  mungkin dengan cara memasak makanan dan minuman sampai matang,  membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan pemberian imunisasi Hepatitis A.
Gejala yang dialami penderita antara lain : demam, lesu, nafsu makan rendah, mual, nyeri pada perut bagian kanan atas, air seni berwarna seperti teh dan  ikterus (warna kekuningan pada mata dan kulit).




2.     Hepatitis B
Penyakit hati yang disebabkan virus Hepatitis B, bersifat akut dan kronik. Ditularkan melalui darah, sperma, air iur dan cairan otak. 
Kelompok yang lebih beresiko terkena peyakit ini adalah  bayi dari ibu penderita Hepatitis B, mereka yang bekerja dengan darah dan produk darah, pengguna jarum suntuk tidak steril, pengguna tattoo, tindik, pisau cukur, pasangan homosex, sering berganti pasangan.  Maka cara pencegahannya adalah menghindari berperilaku seperti itu dan imunisasi segera setelah bayi lahir (sebelum 12 jam), lanjutkan 3 dosis pada usia 2, 3 dan 4 bulan.
Gejala penderita Hepatitis B hampir sama dengan Hepatitis A, namun banyak yang terlambat mengetahuinya. Bisa jadi karena menganggap remeh, atau juga karena tak tahu. 

3.       Hepatitis C
Menular terutama melalui darah. Sebelumnya, transfusi darah bertanggung jawab atas 80% kasus hepatitis C. Kini hal tersebut tidak lagi terjadi berkat kontrol yang lebih ketat dalam proses donor dan transfusi darah. Virus ditularkan terutama melalui penggunaan jarum suntik untuk menyuntikkan obat-obatan, pembuatan tato dan body piercing yang dilakukan dalam kondisi tidak higienis.
Penularan virus hepatitis C (HCV) juga dimungkinkan melalui hubungan seksual dan dari ibu ke anak saat melahirkan, tetapi kasusnya lebih jarang. Seperti halnya pada hepatitis B, banyak orang yang sehat menyebarkan virus ini tanpa disadari.
Gejala hepatitis C sama dengan hepatitis B. Namun, hepatitis C lebih berbahaya karena virusnya sulit menghilang. Pada sebagian besar pasien (70% lebih), virus HCV terus bertahan di dalam tubuh sehingga mengganggu fungsi liver.
Evolusi hepatitis C tidak dapat diprediksi. Infeksi akut sering tanpa gejala (asimtomatik). Kemudian, fungsi liver dapat membaik atau memburuk selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Pada sekitar 20% pasien penyakitnya berkembang sehingga menyebabkan sirosis. Saat ini belum ada vaksin yang dapat melindungi kita terhadap hepatitis C.

4.     Hepatitis D (Virus Delta)


Adalah virus cacat yang memerlukan pertolongan virus hepatitis B untuk berkembang biak sehingga hanya ditemukan pada orang yang terinfeksi hepatitis B. Virus hepatitis D (HDV) adalah yang paling jarang tapi paling berbahaya dari semua virus hepatitis.

Pola penularan hepatitis D mirip dengan hepatitis B. Diperkirakan sekitar 15 juta orang di dunia yang terkena hepatitis B (HBsAg +) juga terinfeksi hepatitis D. Infeksi hepatitis D dapat terjadi bersamaan (koinfeksi) atau setelah seseorang terkena hepatitis B kronis (superinfeksi).
Orang yang terkena koinfeksi hepatitis B dan hepatitis D mungkin mengalami penyakit akut serius dan berisiko tinggi mengalami gagal hati akut. Orang yang terkena superinfeksi hepatitis D biasanya mengembangkan infeksi hepatitis D kronis yang berpeluang besar (70% d- 80%) menjadi sirosis.
Tidak ada vaksin hepatitis D, namun dengan mendapatkan vaksinasi hepatitis B maka otomatis Anda akan terlindungi dari virus ini karena HDV tidak mungkin hidup tanpa HBV.

5.     Hepatitis E
Hampir mirip dengan hepatitis A. Virus hepatitis E (HEV) ditularkan melalui kotoran manusia ke mulut dan menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Tingkat tertinggi infeksi hepatitis E terjadi di daerah bersanitasi buruk yang mendukung penularan virus.
Hepatitis E menyebabkan penyakit akut tetapi tidak menyebabkan infeksi kronis. Secara umum, penderita hepatitis E sembuh tanpa penyakit jangka panjang. Pada sebagian sangat kecil pasien (1-4%), terutama pada ibu hamil, hepatitis E menyebabkan gagal hati akut yang berbahaya. Saat ini belum ada vaksin hepatitis E yang tersedia secara komersial. Anda hanya dapat mencegahnya melalui penerapan standar kebersihan yang baik.


Naah, setelah sesi tanya jawab yang disertai pembagian hadiah bagi yang bertanya (kurleb 9 orang), datang  paling awal (Tri Sujarwo) dan pemenang live tweet dengan 150 cuitan dan membawa powerbank plus tas keren (Hermawan), panitia mempersilahkan kami memakai ruangan sampai kira-kira pukul 12.30 wib.  Sambil makan siang, kami pun  sepakat ngobrol cantik rencana Milad Tapis Blogger kesatu. 



Hasil dari kerja keras para jemari kami adalah berhasilnya #EliminasiHepatitis menjadi trending topic. Lumayaaan, 1400-an cuitan, Brooh... Luaarr biasyaa..

Nge-twit sampe ribuan cuitan. :)

Ahmhamdulilah. 
Satu masukan dari saya adalah agar jika Kemenkes RI mengadakan kegiatan lagi, kiranya bisa memaksimalkan waktu dan fasilitas yang tersedia. Jujur saja, waktu 3 jam saya pikir sangat kurang untuk meninba ilmu khususnya tentang hepatitis. 


Btw, semoga secuil yang kami kerjakan ini menjadi langkah awal pembelajaran bahwa mengedukasi diri sendiri dan orang lain itu harus dimulai sedini mungkin, apalagi yang berhubungan dengan kesehatan. Berpola hidup bersih dan aman merupakan syarat penting demi hidup yang lebih sehat, bermartabat dan bermanfaat. InsyaAllah.



Terimakasih Kemenkes RI, Hotel Asoka  dan Tapis Blogger yang super.

Sumber foto : koleksi pribadi, anggota  Tapis Blogger, Kemenkes RI 

#LampungBersinergi
#penulisbahagia
#tapisblogger