Storytelling + branding = Amazing


Storytelling + branding = Amazing

Setelah cerita seru sebelum acara inti BIP Gathering 2018, lihat di https://www.fitrirestiana.web.id/2018/10/bip-gathering-2018-workshop-bergizi.html saatnya saya memenuhi janji berkisah tentang materi storytelling + branding = amazing yang disampaikan oleh Kak Edward Suhadi, pakar storytelling yang karyanya -sebagian berupa iklan- sering kita nikmati  di layar televisi.

Edward Suhadi di acara gathering BIP 2018, Perpustakan Nasional.
 Storytelling

Storytelling adalah teknik atau kemampuan untuk menceritakan sesuatu kepada penyimak, baik dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, suara maupun film.

Menurut Edward Suhadi (ES), storytelling adalah teknik bercerita, berkomunikasi dan menyampaikan gagasan.

Ayo gagasannya dieksekusi!

 Apa yang membuat cerita menarik :
1. Runut
2. Jelas
3. Tulus
4. Singkat
5. Cantik
6. Membuat peduli

Storytelling tentu membutuhkan banyak ide kreatif. Caranya antara lain dengan membaca, melakukan pengamatan terhadap lingkungan, berkomunikasi dengan banyak orang, beraktivitas sambil terus berpikir, membuat jurnal ide,  bahkan melamun (tapi melamun yang berkualitas loh, ya. Jangan ngelamun mimpi jadi horang haya tapi cuman tiduran doang, hihhihiJ). Melalui Ceritera agency, Edward Suhadi membuat konsep storytelling dengan manis, santun, mengena dan tepat sasaran.


Branding

Branding adalah pemberian nama, istilah, tanda, simbol atau kombinasi dari kesemuanya, yang dibuat dengan tujuan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa atau kelompok penjual dan untuk membedakan dari barang atau jasa pesaing. (Kotler, 2009)

Langsung praktek ilmu branding, :)
 Menurut Wikipedia, branding adalah proses penciptaan atau peninggalan tanda jejak tertentu di benak dan hati konsumen melalui berbagai cara yang memberikan dampak bagi kehidupan konsumen tersebut.

Sederhananya kata ES begini, branding adalah apa yang diingat seeorang pertama kali ketika melihat, mendengar atau menyebut nama kita. 

Saya sempet tertegun, mikir, lah aku iki opo, yo? Taruhlah ada yang bilang ‘penulis’, tapi spesifikasi di bidang apa? Peresensi? Penulis cerita anak? Blogger walau belum profesional? Penulis status? Entahlah. Wong sukanya nulis campur sari warna warni kayak pelangi, hihihi. Tapi ya sudahlah, biarlah branding itu mengiringi langkah diri ini. Uhuk!

Bersama para pengiat literasi yang manis dan baik hati :)

Point utama ketika mem-branding :
1. Harus jujur
2. Konsisten (antara isi, gaya bahasa, tujuan dan sebagainya)
3. Kreatif

Jangan sampai kita ‘menjual’ sesuatu dengan penuh kebohongan. Misal saya yang penulis biasa ini bilang bahwa sudah memiliki ratusan buku yang sudah beredar di penjuru tanah air (fakta : baru mau akan belasan), kursi itu tahan lama terbuat dari kayu jati asli Jepara (fakta :  kayu jati muda dari daerah X). Itu nggak boleh, ya. Namanya bohong. Dan perbuatan bohong itu sungguh tak patut, tak patuut.

Belajarlah konsisten juga kreatif. Konsisten bukan berarti tak boleh ekspansi loh, ya. Melainkan berusaha selalu menjaga kualitas suatu produk dengan tetap melakukan inovasi yang berkelanjutan.

Seseruan di photo booth :)
 Manfaat branding :
1. Mudah dikenali
2. Membedakan produk satu dengan yang lainnya
3. Membuat lebih fokus
4. Bisa mempengaruhi psikologi calon pembeli

Naah, bayangkan bagaimana hasilnya jika kita membranding sesuatu melalui teknik storytelling yang manis dan mumpuni? InyaAllah hasilnya akan amazing!

 
Presentasi tugas membuat storytelling. Seerruuu!
Oiya, kami juga mendapatkan tugas membat storytelling per kelompok, loh. Serruuu bangeeet.. :)

 Kak Edward Suhadi juga sekalian mensosialisasikan gerakan #tumpukditengah. Ini merupakan sebentuk gerakan sosial untuk membantu kakak2 pramusaji agar lebih efisien juga mendidik diri sendiri supaya lebih peduli, peka dan memiliki empati  terhadap pekerjaan orang lain. Kereeen, kan?  Semoga semakin banyak yang tercerahkan, ya. 
Eksekusi gerakan #tumpukditengah

 Berlimpah materi yang disuguhkan Kak Edward Suhadi, lelaki yang ramah dan cool ini. Terimakasih, ya. Di akhir acara, semua peserta mendapat doorprize. Nama saya keluar di urutan pertama dan berhak membawa pulang blender merk Cosmos. Alhamdulillah.

Alhamdulillah. Salah satu doorprize yang melimpah.

Setelah potong kue dan sama-sama berdoa, pukul 16.15 acara tuntas. Ngobrol-ngobrol n foto-foto. Tiba-tiba seorang kakak panitia yang imut menghampiri. “Maaf, Bu. Biar nanti saya yang bawakan tas dan doorprizenya, ya,” ujarnya ramah. Alhamdulillah senang sekali. Eh tapi itu kenapa saya dipanggil ‘ibu’, ya? secara biasanya dipanggil ‘mbak’, loh. *cem tak rela.

“Wah, terimakasih, Kak... Agus...” mata saya bergerak cepat melihat nametag-nya. Baik sekali para panitia ini. Jelas mereka dan semua teman tak tega melihat perempuan berhijab biru memakai tongkat kepayahan membawa tas, goodiebag dan kardus blender. Hihihi. Alhamdulilah.

Satu ilustrator tiga penulis.
 Sepanjang perjalanan beramai-ramai ke luar gedung, ternyata Kak Agus memanggil kami semua dengan panggilan ‘ibu’. Fhiuuh, agak terhibur pula awak. Hahahaha.... Dan, Kak Agus itu ternyata...ternyata..... editor saya dan Mbak Watiek di buku duet kami selanjutnya! Hwuaaa, terharu sangat. Sudah baik fisik, baik pula perilakunya. Doi sampe yang orderin grabcar, loh. Duh, anak muda, andaikan aku punya keponakan gadis aja, hihihihi.

Sampai saya duduk manis dan mobil grabcar melaju, Kak Agus dan Mbak Liza Efriana masih dadah2in. Mbak Liza sengaja menunggu saya beranjak terlebih dahulu. MasyaAllah, dikelilingi orang-orang baik itu rasanya... speechless maksimaaaal...

Penghargaan kepada yang terbaik. Selamat, Kakaak... :)

Terharu sekali mengikuti acara BIP Gathering 2018 ini. Bisa kenal dengan para penulis, ilustrator, editor dan para penggiat literasi lainnya dari Gramedia. Terimakasih, BIP Gramedia plus semua jaringannya.

Semoga kita semakin semangat berbuat banyak kebaikan. Demi terbentuknya generasi yang kuat, taat, tangguh, sehat, cerdas, santun dan banyak kebaikan lainnya. aamin.

Irma, Maya, Fifi, Nova, Watiek.

Karena sudah bilang sama Vini (adik yang barengan dari Lampung) bahwa saya mau ke rumah mertua, jadinya saya sendirian saja. Dapat supir grab yang baik banget. Dia bertanya apakah saya mau mampir ke suatu tempat untuk membeli buah tangan (sebelumnya memang saya sudah bercerita). Tentu saja saya mengiyakan dengan senang hati. Saya pun membelikannya sebotol minuman segar dan cemilan.
 
Ibukota. Teralu manis untuk dilupakan.
Konyolnya, saya lupa ke rumah ibu. Haw ken yu du det, Fifiiiii.. Nelepon kakak ipar tak bisa2, pun pak suami. Akhirnya Pak supir turun meninggalkan saya di dalam mobil sementara doi berkeliling mencari alamat yang tertera di hp. Ada lima sampai tujuh menitan baru ketemu. Huhuhu, terharu sangat. Alhamdulillah masih banyak orang baik di ibukota.

Sepanjang malam kami saling melepas kangen. Sehat-sehat, ya, ibu,  n kakak n para keponakan. Semoga satu saat kita bisa kumpul lagi dengan formasi lengkap dalam keadaan sehat dan bahagia. InsyaAllah.
Bersama ibu, Mbak Iin dan Mas Ngkus. Love love :)

 Kamis, 27 September 2018

Ngobrol2 sebenarnya belum puas, tapi saya harus bergegas tersebab memenuhi janji untuk bersua dengan sahabat yang sedari SD tak pernah bersua. Laali, Ana, Rindang dan Ria. Bahagia sekali bertemu mereka. Kami bercerita tentang pohon jambu, alpukat, ketika jahilin orang lewat, para guru dan bangunan sekolah yang sekarang sudah berdiri megah.

Me, Ria, Ana, Rindang, Laali. Miss you all... :)

Ada airmata ketika mengingat para orangtua. Ada tawa riang manakala kami berkisah tentang keluguan dan kelucuan.
 
Alhamdulillah, bahagia tak terkira.
Sahabat, terimakasih atas pertemuan hari ini. Semoga kita dimampukan menjadi muslimah yang taat dan kaffah. Aamiin.

Terimakasih spesial untuk Pak Samin, driver Bu Laali yang sabar dan baik hati mengantar nyonya warawiri. J

Lion Air delay 30 menitan, saya dan Vini menghabiskan waktu dengan bercerita tentang keseruan kami selama dua hari kemarin.

20.05 alhamdulillah sampai di rumah dengan selamat. Makasih dah banyak bantu uni, ya, Mping. Kapan2 kita menjelajah lagii. J InsyaAllah.

 
Cahaya di balik awan
Pelita, Oktober 2018 

 Salam,

Fitri Restiana
ig. fitri_restiana
fb. fitri restiana

BIP Gathering 2018, Workshop Bergizi untuk Penggiat Literasi


Storytelling di BIP Gathering 2018


Setelah dokter mengatakan saya sudah boleh berjalan pelan dan belajar tidak menggunakan kruk –atau setidaknya satu dulu-, saya minta izin pak suami dan dua Nusantara untuk bisa menghadiri acara BIP Gathering  2018 yang akan diselenggarakan di Perpustakaan Nasional  Republik Indonesia, Gambir, Jakarta, 26 September 2018. Alhamdulillah izin didapat.

Kenapa saya semangat sekali untuk datang? Pertama, karena saya ingin kenal dengan penggiat literasi terutama yang berada di dalam naungan Gramedia. Kedua, materi workshopnya itu keren banget, yaitu story telling, disampaikan oleh Kak Edward Suhadi, mantan fotografer terkemuka yang sekarang fokus di usaha creative agency bernama Ceritera. Ketiga, ingin menengok ibu mertua dan keponakan yang baru saja melangsungkan pernikahan. Kempat, berjumpa dengan para sahabat semasa SD yang bekerja di Jakarta. Sebenarnya sih berharap bisa berkunjung ke saudara yang lain, tapi saya cukup tahu diri dengan keterbatasan waktu dan fisik ini. Hope someday....

Perjalanan memakai kursi roda


Setiba  di bandara Raden Inten, Vini, adik yang berangkat bersama ke Jakarta langsung memesan kursi roda saat check in. Enggak kebayang lah saya yang jalannya masih seperti siput dengan kaki yang terkadang nyeri ini warawiri tanpa kursi roda. Bakalan lelah Hayati, Baaaang. Alhamdulilah, setelah menandatangani surat tidak memiliki penyakit  lain dan izin menggunakan wheelchair, satu petugas siap mengantarkan menuju pesawat. 

Mping Vini yang setia mendampingi. makasih adikku sayang :)
Oh, iya, sebelumnya kami menunggu di waitingroom bersama seorang ibu yang juga memakai kursi roda. Beliau sendirian, loh. Katanya sudah biasa. Kami pun ngobrol. Sempat tersenyum kecut saat mengetahui saya dan beliau sepertinya nyaris terlambat terangkut. Duuh, gimana kalau beneran ketinggalan, coba?

Kami menuju lantai dua melalui jalur lift, berbeda dengan penumpang lain yang menggunakan tangga biasa. Di pintu pesawat, kakak pramugari dengan sigap menyambut dan membimbing saya duduk di kursi. Terimakasih.


Pukul 12.45 wib di Bandara Soekarno Hatta (Soeta) petugas wheelchair dari maskapai sudah siap menunggu di pintu ke luar dan mengantar hingga ke loket Damri. Cukup menyediakan uang 40.000/orang, kami sampai di Gambir dalam waktu kurang lebih satu jam. Makan di CFC, lanjut menuju Hotel Grand Cemara yang sudah di-booking oleh adek sepupu yang lain via Traveloka. (terimakasih, Sofi..:)  Saya harus segera rebahan mengingat kaki ini sudah ngilu-ngilu nyeri gimanaaa gituuh.

Menjelang magrib, Ria dan Rindang datang, dua orang sahabat semasa SD yang selama puluhan purnama tak bersua. Kami cerita seseruan dan makan bubur ayam  Wempy yang uenake poool. Tak lupa kami foto-foto, dooong. Cekrek...cekrek.. mamas penerima tamu beralih profesi menjadi pengarah gaya. Hahaha...


Lanjut kloter kedua menerima kunjungan dari para adik sepupu, Etoy dan Rama. Lagi-lagi kami foto beraneka gaya sambil cerita plus cekikikan. Berasa itu kamar hotel ngak ada tetangganya, hihihi. Jam 00.15 Rama pulang. Saya, Vini dan Etoy siap terlelap. Zzzz....zzzzz...zzzz

Mping, aku, Etoy dan Ama. Sepupu yang seruuu :)

Perpustakaan yang nyaman

Jam 7.30 kami menuju gedung perpustakaan yang hanya berjarak kurang lebih 3 kilo. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai di situ menggunakan grabcar.

Pertama kali menginjakkan kaki, saya teringat pada rumah seorang angku  yang mirip rumah Belanda. Auranya  seolah hidup di masa kemerdekaan. (Ih, kayak pernah aja, hehehe). Dulu sewaktu kecil, setiap ke rumah angku kami selalu dorong2an siapa yang duluan masuk. Pintu yang tinggi, suara berderit dan lantai pualam yang mengkilat dan berwarna gelap, bikin kami deg-degan, berasa akan menemui sesuatu yang menegangkan di dalamnya (efek sering baca buku Trio Detektif kayaknya). Tapi pas melihat ada taman kecil dan penghubung ke dapur dan kamar pengasuh, baru deh lega n nggak deg2an lagi. Hiihihi.

Memasuki pintu bangunan pertama menuju perpustakaan, pengunjung disambut oleh foto-foto, miniatur,  slide yang gambarnya bisa berubah2. Ada juga poster berikut quotes2 dari pahlawan nasional dan mancanegara, kursi zaman dulu kala, dan bayak lagi. Menggoda untuk foto-foto eh dipelajari. 
Mbak Watiek Ideo, aku dan Mbak Maya.
Saya tak terlalu banyak mengamati karena waktunya mepet plus juga terharu karena akhirnya bisa bersua dengan Mbak Watiek Ideo, rekan duet di buku seri Aku Cerdas Mengelola Emosi, Aku Cerdas Mengelola Uang, Aku Cerdas Mengelola Waktu serta Princess Muslimah 3 dan 9 Kebaikan Kasih Sayang. (sudah heboh2an sebelumnya via wa, hihihi). Ternyata doi berpostur tubuh kurus tinggi. Beda banget sama saya yang.... yang.. begitulah kira-kira.. *liriktimbangan J. Intinya mah saya seneeeeng banget. Ada juga bersua dengan Mbak Maya, Mbak Irma Irawati, Mbak Dian, Mbak Nova, Kak Damar, Mbak Deesis, Mbak Nonik  dan puluhan penggiat literasi lainnya. Beliau-beliau ini luar biasa membantu saya supaya tak terlalu banyak warawiri. MasyaAllah, terimakasih, Sahabats...

Ada space outdoor dari bangunan pertama menuju gedung perpustakaan yang luas dan bersih. Asyik banget untuk foto-foto. Sungguh. 


Ide mendirikan gedung perpustakaan sudah ada di zaman Soekarno. Ditindaklanjuti oleh pemerintahan SBY dan diresmikan pada 14 September 2017 oleh Presiden Jokowi. Selama  2 tahun  6 bulan, bangunan 27 lantai ini akhirnya bisa berdiri gagah dengan fasilitas lengkap, cukup ramah untuk teman-teman disabilitas dan merupakan pperpustakaan tertinggi di dunia. Wah, keren, yaa. Saya baru menjelajah di lantai dasar dan lantai 4. Berharap satu saat bisa ke sini lagi dan ngendon berjam-jam. Secara bisa dipastikan nyaman bangeeet.
Ini rak buku, looh..

Jam 8.45 acara dimulai. Kami mendapatkan goodibag berisi nametag, namecard, notes, pena, botol minum dan sekotak kudapan enak. Peserta yang diundang kurang lebih 75 orang, berasal dari Jakarta, Bekasi, Depok, Jawa dan Sumatera.

Setelah pembukaan oleh Pak Wandi S, workshop yang bertema Re-create your idea ini langsung menghadirkan keynote speaker, Kak Edward Suhadi dengan materi Storytelling X Branding = Amazing.

Kak Edward Suhadi

Apa yang dimaksud story telling dan branding?
Bagaimana cara mengumpulkan ide dan mengeksekusinya?
Perlukah jurnal kreatif?
Rugikah berbagi?
Seberapa banyak ide bisa ditampung?
Dan puluhan pertanyaan menarik lainnya.

Baiklah, insyaAllah materi ini akan ada di postingan berikutnya. Sementara sang penulis bahagia mau mempelajari catatan dulu, yaa :)




Salam,
Fitri Restiana






Pentingnya Belajar Public Speaking



Pentingnya Penting Belajar Public Speaking


Jumat, 16 Maret 2018

Tersebab hujan, saya agak terlambat sampai di kantor ACT Lampung untuk mengikuti salah satu acara keren dari Tapis Bloger, TapisBloggerGathering4XACTLampung dengan tema ‘Ngeblog Hingga Ke Luar Negeri dan Pelatihan Mini Public Speaking’ oleh Kak Indra Pradya (www.duniaIndra.com).

Tadinya sudah berencana, kalau hujan masih terus membasahi bumi,  biarlah sang penulis bahagia ini melewatinya dengan ditemani Kak Gocar. Tapi tak sampai sepeminuman teh, Allah memerintahkan hujan untuk berhenti sejenak dan membiarkan makhluk2-Nya beraktivitas dengan sempurna. Termasuk saya. Alhamdulillah.

14.15 wib.
Memasuki kantor ACT yang sejuk, bersapa ramah dengan Kak Indra, Kak Hermawan dan Kak Dilla. Lanjut menuju lantai dua. Ternyata sudah banyak yang datang, pemirsah. Biasa dooong, kangen-kangenan n cipika-cipiki dengan para nona n nyonyah. Berasa puluhan purnama tak bersua. Berkenalan juga dengan teman-teman baru.  Aah, nikmatnya bersilaturahmi. :)

Sebagian besar peserta TapisBloggerGatheringXACTLampung


14.35 wib, acara dibuka oleh Kak Yoga, sang penulis begal cinta. Diteruskan dengan sambutan oleh Mbak Naqiyyah Syam selaku founder Tapis Blogger dan Umi Dian, Kepala Program ACT. Umi Dian juga menampilkan mini movie tentang kehidupan kemanusiaan di Ghouta, Palestina dan beberapa daerah di Lampung yang beberapa waktu lalu terkena banjir. Ya Allah, karena saya enggak sanggup menyaksikannnya, jadi penglihatan saya alihkan ke handphone sambil terus beristighfar. Sedih, sediiiih sekali melihat saudara kita yang sedang dihantam ujian bertubu-tubi. (Mengenai kegiatan ACT, insyaAllah akan saya tuliskan di postingan kedua acara TapisBloggerGathering4XACTLampung).
 
Yoga Pratama, penulis multi talenta
Pandangan saya ke Kak Indra sih masih sama seperti saat pertama kali bersua (http://www.fitrirestiana.web.id/search?q=kongkow+di+cikwo). Ramah, rame, humble, santun dan seru. Asyik diajak ngobrol dan berbagi ilmu. Dan itu masih sama di pertemuan kami kali ini.

Umi Dian, ACT Lampung

Well, berikut sebagian hasil sharingnya. Bagaimana dia berjuang hingga sampai di titik ini, menjadi salah satu mc cetar dan blogger super dengan pengalaman yang luaar biasyaah...Dan perlu diingat, beliau menekankan bahwa ini bukan memberi ilmu, tapi lebih pada berbagi pengalaman. Woow!

Kak Indra. Mc, Singer, Trainer, Blogger yang supernya kuadrat :)

Kunci mengembangkan diri.

1. Passion
Passion adalah sesuatu yang kita tak pernah bosan melakukannya. Ada gairah, semangat dan harapan. Menjaga passion tetap ada bahkan meningkat akan membuat kita tetap fokus dengan tak mengabaikan kemampuan lainnya.

2. No limit standard
Jangan pernah terjebak oleh batasan-batasan yang kita buat sendiri. Misalnya usia, fisik dan alasan lainnya yang kita anggap menjadi alasan kita tak sanggup  melakukan sesuatu.

3. Opportunity meet ability
Peluang adalah manakala kesempatan bertemu dengan kemampuan dan kemauan. Maka ketika kesempatan datang, ambillah. Kita tinggal mengasah kemampuan dan kemauan dengan lebih serius lagi untuk bisa sampai ke tangga di atasnya.

4. Content marketing and sell your self
Ketika kita menyadari memiliki ‘sesuatu’ di dalam diri kita, maka rencanakan apa yang bisa kita ‘pasarkan’. Memperkenalkan lalu menjual potensi yang kita punya dengan cara yang elegan dan santun. Ini harus dijalankan dengan penuh kesadaran, keseriusan dan rasa persahabatan sehingga orang lain tertarik dengan apa yang kita miliki dan mampu lakukan.
 
Pas banget yang ulangtaun jadi pemenang lomba Ig. Selamat, ya, Tante Puspa Fajar.

Waaah, mantabs kan ilmu dari Kak Indra? Secara kadang mah ya kita sering enggak pede, kalah sebelum berperang, sungkan, dan sebagainya dan sebagainya. Adaaa aja mencari pembenaran atas kemalasan kita. Hiks. Malu jadinya...

Nah, ilmu lain untuk mengmbangkan diri antara lain KONSISTEN, RESPONSIBILITY, NETWORKING n KEEP YOUR SPIRIT UP. Clear, yaa! :)

 
Hidangan dari ACT. Hmm, nyam,nyam, yaaam.

Tips Menjadi Pembicara yang Baik (belajar public speaking)

1. Banyak Membaca.
Tanpa membaca, kita tak akan memiliki banyak kata untuk diungkapkan. Membaca sangat penting untuk meluaskan pemikiran dan menambah kosakata.

2. Sering latihan. Trial dan error.
Bicara bergizi tentu saja harus melalui latihan. Sama seperti saat kita memasak. Makin lama harus makin enak. Terus mencoba hingga sempurna. Kak Indra pernah cerita kalau dulu pernah dilempar botol minum kosong karena ‘garing’ saat menjadi MC, tapi dia jadi tambah semangat belajar untuk lebih baik lagi, lagi dan lagi.

3. Kenali audience.
Ini sangat penting karena berkaitan dengan kostum, cara penyampaian dan gaya bicara. Menjaga keakraban secara proporsional juga jangan dilupa.

4. Sigap mengatasi gugup.
Terkadang kita mengalami gagap dan gugup, tiba-tiba merasa ‘blank’. Tak apa. Itu adalah sesuatu yang wajar. Maka yang harus kita lakukan adalah menenangkan diri, mengulang obrolan sebelumnya dan menguraikan kegugupan ke area tubuh yang tak biasa dilihat. Misal menggerakkan kaki dengan pelan.

5. Menggunakan bahasa tubuh yang baik dan benar
Lakukan dengan tulus dan tak berlebihan.

Kak Indra berkisah, untuk sampai di titik ini, doi memulainya dari masa SMA. Bersikeras ke Bandarlampung meninggalkan kampung halaman di Desa Kayu Batu dan Blambangan Umpu, dia diijinkan tinggal bersama tantenya. Pergi pagi pulang malam karena banyak mengikuti kegiatan, terutama di bidang teater dan seni. Bersyukurnya seluruh keluarga besar sangat mendukung.
 
Sengaja duduk di samping Kak Indra. Semoga kerennya nular ke saya, hihihi.

Puluhan prestasi ditorehkan lelaki berperawakan sedang ini. Dia ingat kata mama tercinta, “Indra, pintar akademik itu baik. Tapi Mama membebaskan kamu memilih mana yang akan kamu tempuh. Kembangkan minat dan bakatmu.” Waah, mama yang hebat, ya? (Memang mama2 zaman dulu itu luar biasa ilmu parentingnya. Alfatihah untuk orangtua kita yang sudah berpulang, ;( )


Menjadi blogger

Selama beberapa tahun, Kak Indra aktif di Sangggar Tari Tapis Berseri Bandarlampung binaan Ibu Nurpuri Eddy Sutrisno (walikota Bandarlampung) dengan bidang keahlian bernyanyi dan ngemce. Menjadi Mekhanal Pariwisata pada tahun 2002 membuat namanya semakin berkibar di dunia entertainment. Keaktifan doi mengantarkannya menjadi PNS dan langsung ditempatkan di Dinas Pariwisata. Baginya, konsisten dan all out merupakan sebentuk rasa syukur atas kepercayaan yang Allah SWT berikan. Bersyukurnya doi dikelilingi orang-orang baik yang banyak membantu tanpa pamrih.

Sampai saat ini, Kak Indra dikenal sebagai salah satu mc, trainer dan blogger super plus cetar Lampung yang tulisannya bisa dibaca di www.duniaindra.com.
Oh, iya, doi juga sudah beberapa kali ke luar negeri tersebab passionnya ini, loh. Mupeng, kaaaan?

*****

Menjawab beberapa pertanyaan dengan rendah hati. Meladeni sesi foto-foto dengan gaya yang bersahabat. Ahh, next, insyaAllah kita bisa dipertemukan lagi dalam suasana yang lebih bahagia, ya, Kakak Indra.

Terimakasih atas sharingnya.

Oh iya, tentu ada lomba di tiap acara Gathering Tapis Blogger. Dan inilah pemenangnya. Kak Latifah, Tante Puspa dan Tante Dwi. Selamat, yaa.. :)


Para pemenang yang bahagia

Terimakasih sangat pada ACT Lampung yang sudah memfasilitasi acara ini dengan  amat sangat baik dan santun.

Terimakasih para sponsor yang baik hati, Kak Ikhsan (Aura Publishing) dan Umi Nur ani (Thasya Busana).
 
Terimakasih atas ide dan kerja keras cerdasnya, teman-teman Tapis Blogger.

Semangat berbagi kebaikan kita, ya. InsyaAllah!


Saatnya pulaaaang....
 Foto : Dokumentasi pribadi dan beberapa peserta Tapis Blogger Gathering 4.

 
Tabik,

Fitri restiana, sang penulis bahagia.

Foto